Friday, March 23, 2012

Menikmati Kelelawar, Sejarah, dan Alam Soppeng

Alam Soppeng
Foto: Sudarman
Masih jelas dalam ingatan, Soppeng dengan segala kekhasannya. Kabupaten yang ibukotanya terletak 179 km sebelah utara Makassar ini banyak meninggalkan jejak dalam benak saya.

Hawa sejuk menyegarkan senantiasa dibawa angin di daerah yang terletak pada ketinggian bervariasi (100 – 200 meter di atas permukaan laut) ini. Permukaannya yang tak rata menyebabkan hamparan sawah, gunung, sungai, dan alamnya yang hijau terlihat sangat indah. Cobalah berbincang dengan penduduknya yang ramah. Sehari-harinya mereka memang berbahasa Bugis dengan alunan khas nan lembut tetapi mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik.


Keindahan alam Soppeng
Foto: Sudarman
Kelelawar bergelantungan di pohon
Foto: Sudarman
Pemandangan keseharian kota Watansoppeng
Foto: Sudarman
Makhluk penghuni pohon asam
Foto: Sudarman

Di Soppeng kelelawar ini disebut panning
Foto: Sudarman
Kelelawar yang lazim disebut kalong menjadi warna khas ibukotanya – Watansoppeng. Selama bertahun-tahun setiap hari saat menjelang subuh ribuan kalong melintasi langit Soppeng untuk menempati pohon-pohon besar di kota ini. Kalong-kalong itu beristirahat – menggelantung di dahan-dahan pepohonan hingga menjelang maghrib untuk kemudian beramai-ramai meninggalkan kota itu entah ke mana guna mencari makan. Secara fisik, ukuran tubuh spesies binatang ini lebih besar ketimbang kelelawar yang biasa menghuni gedung-gedung tua, warnanya pun hitam.

Soppeng dalam Sejarah

Wisma Juliana
Sumber: http://soppeng.org
Penataan bangunan di kota ini seperti kontur tanahnya yang tak rata. Bisa jadi bangunan di sebelah kanan jalan terletak lebih tinggi dari jalan sementara bangunan di sebelah kiri jalan terletak lebih rendah. Tengok saja villa Juliana (mess Tinggia) yang dibangun pada tahun 1905 ini letaknya lebih tinggi dari ruas jalan Merdeka. Bangunan tua ini termasuk peninggalan bersejarah. Villa ini dahulu digunakan sebagai kediaman resmi pemerintah kolonial.

Begitu pun makam kuno Jera’ LompoE. Di sana terdapat makam para raja (datu) Soppeng, Luwu, dan Sidrap pada abad XVII, mengunjunginya berarti bukan hanya melihat makam-makam tua nan dingin tetapi juga menikmati hangatnya pemandangan indah di sekitarnya.

Berdasarkan catatan sejarah kuno dalam lontarak Bugis, kota ini dahulu adalah kota kerajaan yang memiliki pengaruh luas. Di kota ini terdapat kompleks istana raja (datu) Soppeng yang dibangun oleh I Latemmamala  yang bergelar Petta Bakkae pada tahun 1261 M. Di dalam komplek tersebut terdapat sejumlah bangunan, di antaranya: Bola RidiE (Rumah Kuning), yaitu  tempat penyimpanan benda-benda atribut Kerajaan Soppeng, SalassaE, yaitu bekas Istana Datu Soppeng; dan Menhir Latammapole, yaitu tempat melaksanakan hukuman bagi para pelanggar adat. Selain Jera’ LompoE, ada pula pemakaman KalokoE Watu, di sini terdapat  makam We Tenri Sui, ibu kandung Arung Palakka.

Satu hal mengenai sejarah Soppeng yang membuat daerah ini menjadi sangat unik adalah ditemukannya bukti-bukti sejarah berupa sejumlah bangunan dan situs berupa  menhir (untuk keperluan pemujaan), dakon (batu monolit), lesung batu (untuk keperluan menumbuk dan membuat bahan makanan), batu dolang (untuk menyimpan air), dolmen (meja batu sebagai altar pemujaan), dan gua Codong. Ini semua membuktikan adanya peradaban manusia di daerah ini sejak 3000 – 10.000 tahun lalu.

Hal ini dituliskan dalam laporan penelitian pada tahun 1989 yang dilakukan oleh Ian Caldweel dan David Bulback. Mereka meneliti arkeologi zaman pra kolonial di wilayah Soppeng pada tahun 1986. Kedua  mahasiswa jurusan Sejarah dan Arkeologi dari Australian National University ini telah meneliti 12 situs di bekas pusat kerajaan Soppeng untuk kelengkapan bahan disertasi PhD-nya.

30 kilometer dari ibukota kabupaten terdapat berbagai rumah adat bergaya arsitektur Bugis, Makassar, Mandar, Toraja Minang, dan Batak yang disebut Rumah Adat Sao Mario. Rumah ini juga berfungsi sebagai museum yang menampung berbagai macam barang antik bernilai tinggi antara lain meja, kursi, cermin, tempat tidur, senjata tajam, batu-batu permata.

Makam Datu Mari-Mari - papan itu perlu dibenahi
agar berkesan lebih menghargai
Foto: Sudarman
Beberapa makam kuno
Foto: Sudarman
Pahatan batu yang unik
Foto: Sudarman
Rumput dan tanaman Jera' LompoE tertata rapi
Foto: Sudarman

‘Wisata Air’ di Soppeng

Pemandian Ompo yang terletak sekitar 10 kilometer dari kota Watansoppeng memiliki mata air alami yang senantiasa mengisi kolam-kolam renangnya. Warga Soppeng dan sekitarnya suka sekali berwisata ke sini. Tetapi kalau Anda ke sini jangan sampai memakai pakaian renang yang minim karena warga berenang dengan pakaian yang cenderung tertutup.

Hm ... tetapi itu dulu. Sekarang Ompo berbeda. Tak ada lagi air melimpah, tak ada lagi bunyi riak air. Untuk mengisi kolam utama saja harus antri dengan PDAM. Sumber mata air Ompo kian berkurang. 
Pemandian alam Ompo
Sumber: http://budpar-soppeng.cc.cc
Pemandian alam air panas LEJJA
Sumber: http://yousaytoo.com
Pemandian alam Citta
Sumber: http://wisatadisulawesi.blogspot.com/2011/01/pemandian-alam-citta.htm 
Citta
Sumber: http://wisatadisulawesi.blogspot.com/2011/01/pemandian-alam-citta.htm  

Namun masih ada pilihan lain:

Pemandian alam air panas Lejja yang berada dalam kawasan hutan lindung di Desa BuluE, Kecamatan Marioriawa, sekitar 44 kilometer sebelah utara ibukota kabupaten.
Pemandangan nan indah plus udara nan segar dilalui sepanjang tanjakan terjal menuju pemandian ini. Obyek wisata ini dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai seperti air bersih, listrik, areal parkir, jalan beraspal, guest house, kolam berendam, lapangan tenis dan baruga wisata untuk pertemuan dengan daya tampung 300 orang.

Ada pula Pemandian Alam Citta yang terletak di Desa Citta Kecamatan Citta. Tempat wisata ini berjarak sekitar 35 kilometer sebelah timur kota Watansoppeng. Di Citta, ada pemandangan berupa beberapa air terjun yang menghiasi dinding tebing. Mengalir tenang, menimbulkan simfoni alam yang damai.

Paket Wisata Untuk Turis Mancanegara

Melihat potensi pariwisata Soppeng, kiranya masuk akal jika wilayah ini merupakan salah satu daerah utama tujuan wisata mancanegara di samping Tana Toraja. Jika sarana dan prasarananya belum siap, mengapa tidak dimasukkan sebagai ‘paket wisata’ bagi para turis tujuan Toraja?

Dengan berkendara bis dari Makassar, Soppeng bisa dilalui. Mereka bisa turun sejenak menikmati alam Soppeng dengan segala kekhasannya.

Perjalanan menuju Soppeng pun sesungguhnya bisa dinikmati. Melalui Camba (di kabupaten Maros) misalnya. Kelok-kelok jalan yang dilalui menyuguhkan keindahan orisinil nan segar. Ataupun jika melalui Bulu’ Dua (kabupaten Barru), pesona keindahan alamnya yang sejuk pun tak kalah indahnya.

Salah satu sudut kota Soppeng
Sumber: http://pittelagulicci.blogspot.com
Camba - daerah di kabupaten Maros yang dilalui
untuk menuju Soppeng
Sumber: http://skyscrapercity.com


Wisata dari Pekanbaru ke Sumatera Barat yang pernah saya alami misalnya, bisa dijadikan contoh. Saat itu kami melakukan perjalanan selama 3 hari. Berkendara mobil dari Pekanbaru menuju Sumatera Barat. Di Sumatera Barat kami melalui Kotogadang, Payakumbuh, Bukittinggi, Maninjau (dengan danaunya), Lembah Anai, Padang (dengan pantai Air Manisnya), danau Singkarak, Batusangkar, terakhir melalui Lembah Harau menuju Pekanbaru. Di setiap tempat kami turun beberapa waktu untuk menikmati alamnya, hanya beberapa jam – 24 jam.

Perjalanan ini bukan semata ‘milik’ kami. Kawan-kawan kami yang lain pun melakoninya. Walau bukan orang Sumatera Barat, kami bisa menyewa kendaraan (hanya kendaraan, tanpa sopir) untuk berwisata ke sana. Dan kami menikmatinya! Kami hanya mengumpulkan informasi yang lengkap dan sangat mudah diperoleh mengenai landmark wisata di tiap kota yang dilalui.

Di samping itu, pemerintah harus pula benar-benar membenahi terminal Daya (tentang ini pernah saya tuangkan dalam tulisan berjudul Terminal Daya ... Riwayatmu Dulu dan Kini). Jangan hanya menerapkan hukum tilang saja untuk pelanggar dalam pengaktifan kembali terminal ini. Poin pentingnya di sini adalah kenyamanan penumpang kendaraan umum antarkota. Sekali lagi, itu yang terutama harus dibenahi. Jika kenyamanan penumpang memadai, maka terminal bayangan ataupun pelanggaran-pelanggaran dalam bentuk lain tak perlu ada. Bisa jadi turis mancanegara ada yang menggunakan terminal ini. Jika ketaknyamanan yang mereka temui di situ, apa kata dunia?


Wisata Menawan Bagi Turis Lokal

Sawah dan langit Soppeng
Foto: Sudarman
Monumen GAPIS, Watansoppeng
Foto: Sudarman
Jembatan Citta
Sumber: http://goldoriole.blogspot.com
Bagi masyarakat di kabupaten lain, Soppeng merupakan salah satu target tujuan wisata.  Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih di sini. Kenyamanan turis lokal ini perlu diperhatikan, misalnya saja dengan memfasilitasi ruangan khusus untuk ibu menyusui. Di mal-mal di Makassar saja sekarang ada ruangan khusus untuk ini, mengapa di tempat wisata tidak? Toh tak perlu yang mewah, yang sederhana pun memadai. Akses ke lokasi-lokasi wisata di Soppeng dipermudah. Bila perlu, ‘jemput bola’! Adakan program-program kerjasama dengan pemerintah kabupaten lain. Atau bisa juga pemerintah provinsi yang memfasilitasi atau membuatkan regulasi khusus.

Pemerintah perlu meningkatkan informasi mengenai potensi wisata Soppeng juga memaksimalkan segala sarana dan prasarana. Manfaatkan semua media massa, baik cetak maupun internet, juga semua bentuk promosi yang memungkinkan. Himbau masyarakat untuk tetap ramah (ya, bisa jadi dengan perkembangan zaman, sekarang manusia ramah sudah mulai berkurang?) sehingga turis yang datang akan merasa nyaman bertanya pada siapa saja yang mereka temui.

Harapan saya, semoga pariwisata Sulawesi Selatan pada umumnya, dan kabupaten Soppeng pada khususnya bisa semakin meningkat sehingga bisa berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan juga bagi pencitraan Soppeng dan Sulawesi Selatan.
Jera' Lompoe dari suatu sudut
Sumber: http://pittelagulicci.blogspot.com


Makassar, 25 Marett 2012

Tulisan ini diikutkan pada Lomba Blog bertema
“Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan”





Daftar Referensi Tulisan:

Brosur Panduan Wisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Soppeng
Tabloid Demos edisi No. 377 Thn X/Minggu III-IV Januari 2008, halaman 12.


Silakan juga dibaca tulisan-tulisan berikut ya ...:

No comments:

Post a Comment

Post a Comment