Saturday, January 14, 2012

Kami Tak Mau Memajang Foto Itu

Sumber:  http://moslem-cartoon.blogspot.com
Tidak terasa, sekarang sudah hampir delapan belas tahun lamanya saya berjilbab. Saya masih ingat waktu pertama kali berjilbab pada tanggal 17 Maret 1994, saat masih duduk di bangku kuliah semester tiga.

Sebenarnya sudah dua tahun sebelumnya saya mengemukakan niat hendak berjilbab kepada kedua orangtua saya. Waktu itu keinginan untuk berjilbab sangat besar hingga merasuk ke sumsum tulang. Begitu menggebu-gebunya saya menyampaikan niat itu kepada orangtua saya. Tanggapan mereka sangat mantap: menolak mentah-mentah keinginan saya. Meski saya berkata takut jikalau saya tiba-tiba mati, mereka berkeras menolak.

Saya dianggap aneh, seperti sudah mendapat pengaruh dari ajaran sesat. “Yang penting kelakuanmu baik, tidak perlu berjilbab. Itu hanya pakaian orang Arab,” begitu dalih ibu saya. Saya membukakan Qur’an yang memuat dalil-dalil berjilbab (an-nur:31 dan al-ahzab: 33) beserta hadits yang berkenaan di hadapan mereka. Tapi mereka menafikannya.


Sumber:
www.bigstockphoto.com
Pokoknya: tidak boleh. Akhirnya saya menyerah, kekukuhan saya goyah. Saya mengikuti kehendak orangtua saya. Saya belum berjilbab tetapi menyimpan niat hendak berjilbab pada suatu hari nanti. Karena saya tak ingin meninggal dalam keadaan belum menutup aurat.

Sedikit demi sedikit saya mengumpulkan kemeja berlengan panjang dan rok panjang dari uang saku saya. Bertahun-tahun lamanya niat itu saya tanam dalam hati dan menjadi kian subur hingga menggelora pada awal tahun 1994. Sebelum melaksanakannya, saya bicara dengan kedua orangtua saya tapi kali itu hanya memberitahukan. Saya tidak peduli mereka setuju atau tidak. Pokoknya: saya harus segera berjilbab. Toh yang akan mempertanggungjawabkan kehidupan saya kelak adalah saya sendiri.

Maka resmilah saya berjilbab. Ujiannya ternyata tidak ringan. Selama tiga bulan lamanya seolah ada bisikan dalam diri saya yang selalu menyuruh saya membuka jilbab. Setiap hari, dari pagi hingga malam saya dipengaruhinya terus untuk membuka jilbab. Untungnya kedua orangtua saya tidak sekeras dulu menentang saya. Tetapi mereka suka mencemooh sikap saya yang segera berlari mengambil jilbab jika ada tamu laki-laki yang datang. “Seperti orang bodoh,” kata ayah.

Ya, saya berusaha menutup aurat dengan utuh. Begitu mengenakan jilbab, saya tak pernah memperlihatkan aurat saya kepada laki-laki yang bukan mahram.  Bahkan seorang sepupu laki-laki yang tinggal di rumah tak pernah lagi melihat rambut saya, betis saya, dan juga lengan saya (apalagi anggota tubuh yang lain).

Hingga menjelang pernikahan tahun 1999. Ada konflik antara saya dan ibu sehubungan dengan hal ini.
Ibu sudah mewanti-wanti saya, “Acara pernikahan itu acaranya orangtua, bukan acaramu.” Maksudnya, saya harus mengikuti apapun kemauan ibu mengenai acara pernikahan. Termasuk mengikuti kemauan ibu mengenai kostum yang akan dikenakan.

Saya dibawa oleh ibu dan seorang kerabat ke tempat jasa rias pengantin untuk dipakai saat akad nikah di pagi hari. Ibu berencana saya memakai pakaian adat Bugis saat itu. Saya ditunjukkan foto-foto pakaian pengantin di sana. “Mau yang mana?” tanya ibu. Pilihan saya tentu saja jatuh kepada kostum modifikasi pakaian tradisional yang lengkap dengan jilbabnya. Ibu tak setuju. Bersama dengan kerabat tadi, mereka menentang pilihan saya yang katanya ‘tidak bagus’. Pilihan ibu jatuh kepada pakaian adat tradisional Bugis.

Dalam foto, perempuan yang mengenakan pakaian itu ditutup kepalanya dengan kain hitam yang diberi hiasan rambut. Sekilas kelihatan seperti kelihatan rambutnya. Leher perempuan itu tertutup. Daun telinganya tertutup sedikit. Anting tradisional yang dipakainya kelihatan. Saya pasrah dengan pilihan ibu saya. Rupanya hanya ‘formalitas’ saja saya disuruh memilih tadi.

Sumber gambar:
http://moslem-cartoon.blogspot.com
Ibu menghendaki pakaian yang dikenakan saat pesta di malam hari adalah pakaian adat Gorontalo. Pada suatu pagi buta, ibu memasuki kamar saya dan memperlihatkan foto seorang perempuan mengenakan pakaian yang diinginkannya. Dengan mata masih mengantuk, saya mengamati foto itu. “Bagaimana?” tanya ibu. “Kelihatan telinganya,” gumam saya. Kontan suara ibu menggelegar marah. Tetangga bisa jadi mendengar suaranya yang sangat keras saat itu. Hati saya pun bergetar, sedih dan pasrah.

Seorang kerabat bahkan berkata, “Buka dulu jibabmu barang sehari, hanya hari itu saja. Setelah itu Kamu pakai lagi, setelah pesta selesai.” Memang tak ada kesempatan bagi saya untuk memilih. Pertanyaan hanyalah formalitas belaka. Saya hanya bisa memutar otak bagaimana supaya rambut saya tak kelihatan saat mengenakan pakaian ini, karena selain mengenakan semacam mahkota, rambut pun dihias dengan aneka hiasan termasuk tusuk konde.

Saya keliling pasar Sentral untuk mencari kain hitam yang pas dipakai menutupi kepala dan bahannya cukup lentur untuk ditembus tusuk konde. Alhamdulillah dapat. Jadi, untuk kepala saya aman. Tetapi untuk telinga saya terpaksa pasrah dengan kemauan ibu. Hal ini sama sekali tidak bisa didiskusikan. Syukur-syukur rambut saya bisa ‘selamat’.

Kira-kira dua hari sebelum hari H, kerabat berdatangan ke rumah. Saat ada kesempatan berdua dengan ibu, saya memperlihatkan kain hitam yang saya peroleh itu kepada beliau. Sungguh tak terduga, ibu saya marah besar padahal saya mengucapkannya dengan sangat sopan dan berhati-hati, hanya memintanya melihat kain hitam itu. Suara ibu menggelegar sehingga beberapa kerabat mendekati kami. Saya masuk kamar dan menangis.

Tak kuasa saya menahan isak tangis. Saya menangis sejadi-jadinya. Terisak-isak, tersedu-sedu, sesenggukan. Hati saya sedih tak terkira. Untuk berdiskusi pun tak ada celah bagi saya. Sekaligus saya malu sama semua kerabat yang datang, mereka bisa-bisa mengira saya sudah membuat kesalahan fatal yang membuat ibu marah.

Sumber:
www.zawaj.com
Saya menceritakan apa yang baru kami bicarakan kepada kerabat yang mendatangi saya di kamar. Saya tumpahkan semua kesedihan saya. Untungnya ada kerabat yang mau membantu mendampingi saya nanti saat persiapan kostum di gedung nanti. Kerabat yang lain juga membantu melunakkan hati ibu. Alhamdulillah, kain hitam itu bisa saya gunakan.

Singkat cerita, pada hari H jadilah saya dan suami saya sebagai pasangan ratu dan raja sehari. Seperti boneka yang berdandan dengan kostum yang tak kami inginkan. Allah Yang Maha Tahu pasti mengerti kesulitan saya yang terpaksa merelakan dua belah telinga yang selama ini saya tutupi terlihat. Ada yang mengira saya melepas jilbab saat itu padahal – demi Tuhan, tidak. Hanya telinga saya saja yang kelihatan sementara rambut dan sekujur tubuh saya tetap tertutup.

Setelah itu, hingga sekarang – jika pasangan-pasangan lain memajang foto-foto pernikahan mereka, maka saya dan suami tak pernah berkeinginan memajang foto-foto itu dengan alasan yang sudah saya kisahkan di atas. Tetapi mengenai tekad saya dalam berjilbab, ayah dan ibu saya pada akhirnya mengerti. Mereka bahkan memberitahukan kepada saya jika tiba-tiba ada tamu laki-laki yang datang tanpa saya ketahui, supaya saya bisa segera mengenakan jilbab. Ibu saya pun akhirnya mengenakan jilbab sejak delapan tahun lalu.

Yah, memang tak mudah menjalankan sesuatu yang baik. Pasti ada ujian yang menyertainya bahkan harus menentang orangtua sendiri. Jika niat kita tulus, seperti angin yang bertiup dan berlalu, ada saatnya ujian itu akan berlalu pula. Allah Yang Maha Mengetahui pasti mengetahui isi hati kita. Dia Yang Maha Penyayang dan Maha Pemaaf, mudah-mudahan memaafkan kekhilafan saya selama melaksanakan kewajiban yang satu ini.

Makassar, 14 Januari 2012

Mugniar berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi olehJeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios108”



Tulisan-tulisan yang lain boleh dibaca juga looh:

No comments:

Post a Comment