Showing posts with label Mengomentari Media. Show all posts
Showing posts with label Mengomentari Media. Show all posts

Wednesday, January 4, 2012

Hebat ... Mobil Ini Rakitan Anak Negeri

 Dimuat di Tempo.Co:
Ini Mimpi Para Siswa Perakit Mobil Jokowi 

Salut nonton berita, ternyata ada mobil hasil rakitan anak negeri. Namanya KIAT  ESEMKA. Yang membingungkan, pembaca beritanya mengatakan bahwa mobil ini sudah dipakai oleh walikota Solo. “Entah untuk mencari sensasi atau untuk mendukung karya warganya,” tambahnya.

Jadi rancu, ini berita TV atau infotainmen?

Kalau berita TV kan isinya bersifat eksposisi (pemaparan), apa adanya. Nah kalau infotainmen biasanya bersifat narasi yang menggiring opini publik. Ck ck ck ...
 Al Ghazali menyebutkan: “Salah satu penyakit lidah: permbicaraan yang tidak berguna bagimu. Ketahuilah bahwa jika engkau mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagimu, maka engkau telah menyia-nyiakan umurmu dan menempatkan dirimu pada penghisaban serta mengganti yang lebih baik dengan yang lebih rendah. Kalau kau mengingat Allah, sebagai ganti dari berbicara dari yang tak berguna, atau engkau diam, atau menyibukkan diri dengan berpikir, niscaya dengannya engkau mendapat derajat tinggi”[i].
Nah lho ... hati-hati para pembuat berita. Karena Anda bekerja berdasarkan fakta, bukan opini, apalagi imajinasi .... ^__^

Pak Sukiyat 
Dimuat di Tempo.co: Kisah Sukiyat, Perintis Mobil Esemka Jokowi 

Kembali ke mobil Esemka ini:

Mobil yang dirakit para pelajar SMK dan Kiat Motor tersebut menggunakan komponen 80 persen buatan lokal dan 20 persen impor. Mobil tersebut dibiayai Menteri Pendidkan dan Kebudayaan M. Nuh[ii].
Sosok yang berperan dalam "kelahiran" mobil Kiat Esemka adalah Sukiyat, pemilik dan pendiri Kiat Motor. Bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Kejuruan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pria kelahiran Trucuk, Klaten. 22 April 1957 ini merintis perakitan mobil bikinan anak bangsa.  Mobil Esemka naik daun setelah Wali Kota Surakarta, Joko Widodo menggunakannya sebagai mobil dinas.  (baca: Jokowi: Mobil Esemka Lebih Nyaman dari Camry). Mobil yang dirakit para pelajar SMK Warga Surakarta dan Kiat Motor tersebut menggunakan komponen 80 persen lokal dan 20 persen impor. Menurut Sukiyat, dana dua unit mobil tersebut dari masing-masing sekolah, yang mendapat dana dari Kemendikbud. Satu unit biayanya sekitar Rp 350 juta. Komponen mesin didatangkan dari Jakarta, yang juga buatan siswa SMK 1 Jakarta[iii]

Wow ... salut buat pak menteri yang mendukung karya anak negeri ini. Biaya produksinya masih mahal ya. Tapi kalau tidak salah ingat, di berita TV itu dikatakan, “Jika diproduksi massal, biayanya berkisar Rp. 70 – 90 juta." Hm .. mudah-mudahan ada investor baik yang meliriknya.

Makassar, 4 Januari 2012

Baca juga yang ini yaa:










[i] Al Ghazali, Mutiara Ihya’ ‘Ulumuddin, diterjemahkan dari Mukhtashar Ihya’ ‘Ulumuddin, Mizan, 2008.
[ii] Dimuat di Tempo.Co, berita 3 Januari 2012, judul berita: Ini Mimpi Para Siswa Perakit Mobil Jokowi  
[iii] Dimuat di Tempo.co, berita 3 Januari 2012, judul berita:  Kisah Sukiyat, Perintis Mobil Esemka Jokowi  

Thursday, November 24, 2011

Belajar dari Tamparan Seorang Kompasianer

Pfuh ...
            Hari beberapa hari ini saya belajar beberapa hal dari tamparan seorang Titi.
            Bukan hendak memperpanjang polemik kawan. Kasus ini sudah ditutup setelah berita Cerita Panjang Akun Kompasiana Bernama Titi dari admin Kompasiana dirilis kemarin. Hanya hendak menelusuri bekas-bekas tamparan Titi yang masih terasa.
            Kompasiana sungguh merupakan media yang menarik. Di sini, ada banyak hal bisa diperoleh: bukan hanya belajar membuat tulisan yang menarik judul dan isinya sehingga banyak orang tertarik untuk menerima ini sebagai tantangan agar mendapatkan pembaca sebanyak mungkin. Imbasnya, seorang kompasianer bisa menjadi populer, kawan. Populer itu asyik. Populer itu melenakan.
            Predikat terverifikasi ternyata bukan jaminan bahwa yang ditulis seseorang itu bukan kebohongan. Bisa jadi orangnya ada namun kisah atau berita yang ditulisnya adalah fiksi. Ah Titi, seandainya sejak awal kamu memilih kanal Fiksi untuk mempublikasikan tulisan-tulisanmu lalu belajar menulis fiksi dengan sungguh-sungguh (saya yakin peminat fiksi di Kompasiana pasti banyak yang bersedia mengajarimu), mungkin saja tulisan-tulisanmu bisa dibukukan lho.
            Namun kini apa yang terjadi. Kamu bagai dihempas ke tanah seketika dari balkon bernama popularitas itu. Hanya satu kali jentik jari BLAS ... akunmu amblas. Sungguh sayang sebenarnya karena ada potensi besar dari dalam dirimu jadi tertutup jalannya untuk dieksplorasi. Kamu menyia-nyiakan media besar yang bisa mengantarkanmu ke jenjang berikut dari kepopuleranmu, dari hanya sekadar penulis berita dengan pembaca terbanyak.
            Hanya karena satu hal yang tak ada dalam dirimu Titi: kejujuran. Ya, jujur sejatinya terintegritas dalam dirimu. Dan hari ini saya benar-benar sadar, bahwa bukan hanya dirimu yang harus memiliki kejujuran yang terintegritas itu Titi, bukan. Semua kompasianer harus memilikinya. Dan integritas itu bukannya terjadi satu dua hari ini saja. Bukannya terjadi saat ada orang yang datang hendak menyelidiki keakuratan tulisan kita.
Tetapi ia seharusnya terbentuk bertahun-tahun lalu sejak kita masih kecil, atas didikan orangtua kita, atas pemahaman agama kita. Bahkan sejak kita dalam kandungan ia sudah diusahakan oleh orangtua kita – karena mereka pun telah mengintegrasikan kejujuran dalam karakter mereka sejak lama, berkat ajaran kakek-nenek kita dan berkat pemahaman akan ajaran agama kita. Kemudian kejujuran itu kita bawa ke mana pun kita pergi, mengejawantah dalam setiap perilaku kita.
Untuk suatu ironi: terimakasih Titi atas tamparanmu yang telah mengobrak-abrik naluri keibuanku yang naif. Setidaknya masih ada yang bisa dipelajari dari peristiwa ini. Satu poin besar saya garisbawahi lagi, ini PR besar bagiku yang memiliki tiga buah hati, untuk serius mengusahakan kejujuran terintegrasi dalam karakter ketiganya. Satu tanya kini menggelayut, “Bagaimana perasaan orangtuamu - Titi jika tahu hal ini?”
Makassar, 24 November 2011





Berikut kutipan dari artikel Cerita Panjang Akun Kompasiana Bernama Titi:
Hari ini, saya menghubungi tiga orang yang tinggal di daerah Purwokerto.Pertama, saya menelepon Titi pukul 14:53 waktu BlackBerry saya. Lalu saya telepon Mbak Dyah jam 15:09. Dan usai membaca hasil investigasi Mas Singgih, saya buru-buru menelponnya pukul 16:28.
Setelah serpihan-serpihan informasi seputar fakta di balik akun Kompasiana bernama Titi (www.kompasiana.com/titi) beredar silih-berganti di Kompasiana, hari ini saya memiliki informasi cukup untuk memberi penjelasan dan mengambil tindakan. Penjelasan seputar akun Titi, dan tindakan yang patut diambil Kompasiana atas akun ini.
Fakta-fakta tersebut dikumpulkan dan dituliskan para Kompasianer secara kolaboratif, berdasarkan informasi yang mereka dapat selama berkompasiana dan berdasarkan informasi yang mereka ketahui selaku warga Purwokerto. Semuanya mencoba menjawab misteri di balik akun Titi yang diduga sebagai akun fiktif dan terkait dengan dr Anugra-keduanya tinggal dan bekerja di tempat yang sama: Baturaden, Banyumas.
Sebelum saya menceritakan isi pembicaraan dengan tiga orang di atas, saya mau bercerita dari awal, agar bangunan informasi yang diterima teman-teman Kompasianer utuh.Cerita panjang ini bermula dari tulisan seorang warga Purwokerto yang menggunakan nama pena Dyah Ayu Ratnasari. Tanggal 15 November 2011, lewat dua tulisan pertamanya, Dyah mengkritisi salah satu tulisan Titi yang menceritakan sosok dokter atasannya yang disebut sebagai ” dokter ahli bedah kanker yang memiliki klinik nan asri di kawasan wisata Baturaden”.
Di tulisan pertama, Dyah menulis, “Dari hasil penelusuran didapatkan ada seorang dokter ahli bedah kanker di Purwokerto tetapi menurut sumber berita yang sangat layak dipercaya beliau tidak memiliki klinik dan aset aset seperti yang pernah dituliskan oleh adik Titi.”Lalu di tulisan kedua, Dyah menyantumkan nama dr Anugra di judul tulisan dan mencoba mencari tahu hubungan antara kedua Kompasianer tersebut (Anugra membuat akun di Kompasiana sejak 25 Desember 2008, sedangkan Titi sejak 16 April 2010). Saya kutipkan sebuah fakta yang menurut Dyah perlu diketahui semua orang, khususnya masyarakat Purwokerto:
“Awal membaca tulisan Titi saya beranggapan bahwa dokter yang dimaksud dalam tulisan tersebut adalah dr. L, satu satunya dokter ahli bedah kanker di Purwokerto yang saya kenal, setelah mengikuti beberapa tulisan saya ragu karena sepengetahuan saya beliau tidak tinggal dan memiliki klinik di Rempoah dan tidak memiliki Istri yang sedang hamil.”
Dua tulisan Dyah tadi ditayangkan sehari setelah nama Titi tercantum di daftar 10 nominator Kompasianer Favorit 2011. Melihat faktor kebetulan ini, beberapa pembaca menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Apalagi Dyah baru membuat akun di hari yang sama. Tanpa foto dan tanpa tanda TERVERIFIKASI. Sementara akun Titi sudah terverifikasi, lengkap dengan KTP yang dikeluarkan oleh Kabupaten Banyumas (informasi detil identitas akun terverifikasi selamanya dirahasiakan).
Saya membaca dua tulisan Dyah hingga tuntas, dan memilih untuk menunggu perkembangan selanjutnya. Tak lama berselang, seorang Kompasianer di Solo menghubungi saya dan memberi kesaksian bahwa Dyah adalah orang yang dia kenal dan tulisannya tidak bertendensi menyerang atau mencemarkan nama baik orang lain. Tapi karena akun Dyah baru dibuat dan belum terverifikasi, saya meresponnya dengan datar.
Keesokan paginya, dr Anugra menelepon saya dan mengungkapkan kegusarannya atas tulisan Dyah tersebut. Dia tidak habis pikir kenapa namanya kembali disebut-sebut. Dan kasus yang diangkat adalah kasus yang sama dengan yang pernah terjadi dua tahun lalu (keraguan atas gelar dan profesi dr Anugra).
Saat saya tanya hubungannya dengan Titi, dia mengaku mengenal Titi sebagai asisten dokter temannya. Setelah itu, percakapan lewat telepon ditutup dengan komitmennya untuk tidak menanggapi ‘tuduhan basi’ tersebut.
Dalam waktu singkat, tulisan Dyah mendorong banyak Kompasianer lain untuk ikut menyoroti akun Titi dan kembali membincang dr Anugra. Ada yang mempertanyakan penghapusan dua tulisan Titi, dan tidak sedikit yang menceritakan kembali kasus-kasus lama yang sampai saat ini masih belum jelas seperti identitas pemilik akun Olive dan gelar serta profesi dr Anugra.
Tapi bersamaan dengan itu, Titi yang sebelumnya gemar menulis di Kompasiana (dalam sehari dia pernah menayangkan tiga tulisan) dan rajin membalas komentar tiba-tiba menghilang. Dia tidak menanggapi tuduhan-tuduhan di atas. Juga tidak membuat tulisan klarifikasi. Tulisan terbarunya terhenti di tanggal 15 November 2011.
Titi juga tidak merespon pesan pribadi yang saya kirim dan teleponnya tidak bisa dihubungi. Waktu itu, 17 November 2011, saya menanyakan tanggapannya terkait dua tulisan Dyah. Pada hari yang sama, Dyah menghubungi saya, ingin melakukan verifikasi akun. Beberapa hari kemudian, akunnya terverifikasi, namun Titi masih bungkam.
Hingga akhirnya, Selasa (22/11) kemarin, Titi menayangkan sebuah tulisan yang ditunggu-tungguoleh para Kompasianer, khususnya yang mengikuti kasus ini. Tapi sayang, yang ditulis Titi bukan sebuah klarifikasi, tapi sebuah sikap penyesalan atas adanya tudingan-tudingan yang disebutnya sebagai aksi provokasi atas dirinya.Lebih lanjut Titi menulis,“Banyak sekali yang meminta saya untuk mengklarifikasi siapa sesungguhnya saya ini, dan banyak yang meminta saya untuk menjelaskan semuanya, tapi saya sadar buat apa saya menjelaskan semuanya kalau nanti justru menjadi boomerang bagi saya sendiri, lagi pula saya bukanlah siapa-siapa….”
Usai membaca tulisan Titi, saya kembali mencoba menghubunginya via telepon. Lagi-lagi tidak bisa dihubungi. Kebetulan Selasa merupakan tenggat waktu produksi lembar Kompasiana Freez yang tayang setiap Kamis di Harian Kompas-sehingga saya tidak bisa fokus dalam menelusuri kasus ini.
Nah, siang tadi, saya mencoba kembali menelepon Titi. Berharap ada klarifikasi dari yang bersangkutan. Apapun yang diucapkan Titi akan menjadi pegangan bagi saya dalam menyikapi kasus ini. Tapi meskipun berhasil dihubungi, saya tidak mendapatkan jawaban apapun!Begitu sadar yang menelepon adalah saya, Titi berulang kali meminta maaf. “Saya lagi di jalan. ini hujan. maaf sekali ya mas.” Katanya berulang-ulang. Pertanyaan saya pun dijawab dengan ungkapan yang sama. Saat saya tanya apakah dia sedang berada di angkutan kota, dia bilang sedang di motor. Tapi suaranya terdengar jernih, tanpa gangguan suara motor ataupun gemuruh hujan.
Setelah Titi menutup telepon, saya menghubungi Dyah yang sehari sebelumnya mengirim email berisi alasan lengkap mengapa dia ingin mengungkapkan kebenaran di balik akun Titi. Via telepon, Dyah mengaku mendapatkan data-data akurat dari DINKES dan IDI Banyumas. Niat utamanya adalah mengungkapkan fakta bahwa dr.anugra adalah dokter umum dan tidak ada klinik bedah kanker serta aktivitas dokter bedah kanker di klinik desa rempoah. Fakta itu perlu diungkapkan sebenar-benarnya agar masyarakat terlindungi dari praktek dokter yang tidak sesuai kompetensinya serta melindungi kesalahan persepsi Kompasianer terhadap dokter bedah kanker yang asli yang bertugas di Purwokerto.
Lewat email, Dyah menuliskan dua fakta penting berikut yang merupakan bantahan atas apa yang pernah ditulis Titi:
  • dr. Anugra Martyanto adalah seorang dokter umum.
  • Dokter bedah kanker di Purwokerto dan sekitarnya hanya ada seorang, yaitu dr. L. (identitas aslinya sengaja saya samarkan), tidak memiliki klinik di Desa Rempoah, Kecamatan Baturaden Kabupaten Banyumas, dan tidak memiliki aset-aset dan aktivitas seperti yang diceritakan oleh TITI.
Setelah menerima penjelasan tersebut, saya masih bertanya-tanya, apa yang menghubungkan antara dr Anugra dan Titi? Apakah dokter pemilik klinik tempat Titi bekerja adalah dr Anugra? Lantas bagaimana cara membuktikan bahwa akun Titi terkait erat dengan dr Anugra?Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena Titi tidak pernah menyebut nama dokter atasannya di dalam tulisan-tulisan di Kompasiana (kecuali di beberapa tulisan yang dia hapus tanpa penjelasan).
Untuk membuktikan identitas pemilik akun Titi dan kaitannya dengan dr Anugra, tidak bisa dilakukan dengan kajian dan penyelidikan data di dunia maya. Harus ada yang turun langsung ke lapangan dan mengecek ke lokasi.
Dan itulah yang kemudian dilakukan oleh Singgih. Dia mendatangi alamat dr Anugra di Klinik Griyo Waluyo, Jl Perapatan Tengah No 25, Desa Rempoah, Baturraden, Jawa Tengah. Alamat ini didapat dari dr Anugra sendiri yang menuliskannya di kolom komentar tulisan Rosiy, 18 November 2009.
Sepulang dari klinik, Singgih langsung menuliskan hasil investigasinya di sini. Setelah membaca tuntas laporan tersebut, saya bergegas menelepon Singgih untuk mengkonfirmasi hasil penyelidikannya.
Singgih menjelaskan, pagi tadi bertemu dengan Titi dan dr Anugra di sebuah rumah praktek dokter umum (Singgih berulang kali menyebut tempat itu bukan klinik karena tidak terlihat seperti klinik dan tidak ada plang nama klinik). Setelah bersalaman dengan Titi dan dr Anugra, Singgih langsung meminta konfirmasi atas tulisan paling menghebohkan yang pernah dibuat oleh Titi (dibaca oleh 340 ribu lebih orang), yaitu berita meninggalnya seorang bayi saat ibunya menggunakan BlackBerry.
Jawaban dr Anugra sungguh di luar dugaan. Berikut laporan Singgih:“Pertama, saya mendapat keterangan dari Beliau bahwa tulisan tersebut benar asistenya (Sdri. Titi) yang mengetik dan publish, sumbernya dari dr. Anugra yang cerita. Dan cerita tersebut katanya memang benar terjadi tapi tempat kejadiannya di salah satu klinik di mana dr Anugra prakter di Jakarta Selatan tepatnya di jalan Fatmawati dan klinik tersebut sekarang sudah di tutup, dan kejadian tersebut tahun 1990, dan tempat kejadianya bukan di Purwokerto.”Dan yang lebih mengagetkan, dr Anugra mengakui dirinya mengedit semua tulisan Titi sebelum ditayangkan di Kompasiana.
Kedatangan Singgih ke tempat kerja dr Anugra (dan sekaligus tempat kerja Titi) tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi mengungkap fakta baru yang sudah diduga banyak Kompasianer sebelumnya. Ternyata selama ini keduanya memang terikat hubungan erat sebagai dokter dan perawat. Di Kompasiana, Titi berperan sebagai penulis, dr Anugra sebagai editor.
Pengakuan dr Anugra bahwa Titi bekerja dengan temannya terbukti hanya isapan jempol. Begitu juga dengan tulisan Titi soal bayi BlackBerry, ternyata tidak terjadi di kliniknya. Titi sudah berbohong, dan kebohongannya diedit oleh dr Anugra. Selanjutnya, kebohongan berita itu ditambah dengan kebohongan baru di tulisan berikutnya yang salah satu paragrafnya berbunyi:“Dan sesungguhnya pagi ini-pun saya sudah dipanggil oleh pimpinan di klinik tempat saya bekerja dan diadakan rapat mendadak dikalangan staf dan mengevaluasi isi tulisan yang saya postingkan itu. Sesuai petunjuk dan arahan dari pimpinanku di klinik tempat saya bekerja, saya di perintahkan membuat tulisan lagi untuk mengklarifikasi dan menjelaskan tujuan awal dari penulisan itu, sungguh tidak ada tujuan untuk membuat HOAX, atau membuka sebuah musibah dari pasien kami, atau sengaja membuka rahasia jabatan kami dibidang pelayanan medis…..”
Lantas apakah peran Titi persis seperti yang disebut oleh dr Anugra? Apakah memang dia penulisnya dan sang dokter editornya? Sayang dua pertanyaan ini tidak bisa terjawab karena Titi tidak boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan Singgih. “Semua (jawaban)nya diambil alih oleh dr Anugra,” jelas Singgih.
Lalu saya bertanya apakah wajah Titi mirip dengan foto di Kompasiana? Dia bilang mirip dengan foto-foto di tulisan berjudul “Apakah Anda Merasa Senang di Tempat Anda Bekerja“. Apakah ada air terjun di belakang kliniknya?
“Enggak ada lah mas. Rumah itu adanya di perkampungan. Air terjun adanya di hutan. Lagi pula, gambar klinik yang diposting Titi tidak sama dengan rumah yang saya datangi tadi pagi,” imbuh Singgih.
Tindakan KompasianaDari berbagai penelusuran yang sudah dilakukan oleh Kompasianer, Kompasiana memutuskan untuk mencabut nama Titi dari daftar Nominator. Perlu diketahui bahwa Titi dinominasikan karena total pembacanya paling banyak. Dan banyaknya jumlah pembaca ini didapat dari tulisan hoax bayi BlackBerry yang faktanya sudah terungkap di atas.
Selain itu, Kompasiana juga dengan terpaksa memblokir akun Titi dengan pertimbangan: Adanya indikasi penyalahgunaan akun oleh pihak lain, adanya indikasi akun ini palsu, dan, yang lebih penting, untuk mencegah adanya aksi penghapusan tulisan oleh Titi seperti yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Demikian cerita panjang ini saya tulis. Semoga menjawab kegelisahan yang selama ini muncul akibat akun Titi dan tulisan-tulisannya.
#trims JET



Baca juga:

Tuesday, November 22, 2011

Ada Apa Antara Jurnalisme Warga Biasa dan Profesional?

Beberapa waktu yang lalu ada berita  “Ibu Asyik Dengan BBM, Bayi Meninggal Tertimpa Bantal” di media kompas dot com yang merupakan hasil ‘hybrid’ dari berita serupa di Kompasiana. Oya, Hybrid di sini adalah: artikel Kompasiana ditempelkan pada wall Facebook Pepih for Hybrid Journalism Project. Selanjutnya kang Pepih Nugraha (managing editor di Kompas.com) akan meng-hybrid tulisan tersebut dengan cara meringkas, menulis ulang dan re-titling (memberi judul ulang). Dalam tulisan hybrid Kompas.com tersebut, nama penulis akan disebut sebagai sumber tulisan ‘jurnalis warga’, plus kata-kata rujukan ‘informasi selengkapnya silakan lihat di sini’, yang mengarahkan kembali (bounce-back) hasil hybrid tulisan Anda di Kompas.com ke link tulisan asli Anda di Kompasiana. Tulisan hasil hybrid di Kompas.com juga dilengkapi dengan link-link rekomendasi Facebook, twitter dan sebagainya. Disediakan juga kolom komentar (dari artikel yang ditulis mbak Nadia).

Cuplikan berita itu adalah:
BANYUMAS, KOMPAS.com — Keasyikan chatting lewat BlackBerry Messenger (BBM) memang sering menyita waktu dan membuat banyak orang yang lupa diri. Bahkan, bisa berakibat fatal kalau sampai membuat lalai dengan keadaan di sekitarnya. Di Baturaden, Banyumas, saat asyik ber-BBM ria, seorang ibu melalaikan bayinya sehingga tewas tertimpa bantal. Peristiwa tragis ini diceritakan oleh seorang Kompasianer dengan nama pena Titi dalam tulisannya di Kompasiana, Jumat (30/9/2011) siang tadi.
Menurut cerita Titi, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.45 tadi. Saat bapak dari bayi tersebut pulang dari tempat kerja untuk melaksanakan shalat Jumat, ia mendapati sang bayi sudah lemas dan tak bersuara seperti biasa. Sementara sang ibu tengah asyik menggunakan BlackBerry-nya di ruang tamu. Seketika itu juga sang bapak melarikan bayinya ke klinik untuk memeriksakan keadaan bayinya.
Namun malang, bayi itu sudah tidak bernyawa lagi walau masih terasa hangat. Hasil pemeriksaan dokter, jantung bayi itu tak lagi berdetak, tidak ada suara paru, serta dipastikan pupil dari kedua matanya yang sudah melebar atau midriasis dan tidak adanya refleks cahaya dari pupil mata itu. Ini adalah salah satu tanda pasti kematian karena rileksnya otot siliaris pupil dalam bola mata.
"Saat datang ke klinik kami, bapak ini membopong bayinya didampingi sang ibu yang masih menggenggam BlackBerry-nya itu. Setelah dokter menjelaskan semua keadaan yang ada, spontan sang bapak merampas BB istrinya itu dan melemparkan ke tembok klinik hingga hancur berantakan," tulis Titi.
Cerita miris tersebut langsung mendapat banyak tanggapan dari pembaca Kompasiana. Hanya dalam hitungan jam sejak diunggah sekitar pukul 12.00, tulisan itu sudah dibaca lebih dari 60.000 kali dan ada 75 komentar sampai pukul 22.00. Rata-rata dari komentar itu mengingatkan kembali kepada semua orang agar tidak lalai menggunakan teknologi.
Ada yang menyalahkan sang ibu. Tetapi, ada juga yang tetap bersimpati dengan peristiwa yang menimpa keluarga tersebut. Bagaimana trauma psikologis sang ibu saat disalahkan oleh suami sebagai penyebab kematian anaknya.
"Inalilahi wa innailaihi rojiun…. Semoga ayahnya diberi ketabahan dan ibunya mendapat pelajaran yang berharga...," demikian salah satu komentar.
Di antara pembaca, ada pula yang menyangsikan cerita Titi, bahkan menuding sebagai hoaxkarena tidak disertai rincian lokasi kejadian dan korban. Namun, menurut Titi, menjadi hak tempatnya bekerja untuk merahasiakan data pasien, kecuali untuk kepentingan penyelidikan hukum. Adapun Titi merupakan salah satu penulis di Kompasiana yang akunnya terverifikasi.
Silakan baca berita selengkapnya di Kompasiana.
            Baru saja (23 November 2011) ada tulisan dari seorang jurnalis profesional: Media Massa Harus Ingat Kode Etik Jurnalistik. Ia menggugat berita Kompasiana serupa berita di atas yang menurutnya tidak akurat karena tidak ada fakta yang bisa dimunculkan. “Kalau memang akurat, kan ada korban, harusnya ada laporan kepada pihak kepolisian dan lurah setempat,” begitu kira-kira bahasannya.
            Lantas ia menuliskan:
Karena saat ini sedang menjadi polemik, apakah si penulis asli orang yang asli, dengan tulisan yang asli atau bukan?  Langkah yang harus dilakukan Kompas.com adalah segera melakukan investigasi khusus ke lokasi kejadian. Saya harap hal ini segera dilakukan. Supaya kebenaran kasus ini bisa terbukti. Sangat disayangkan, jika media sebesar Kompas Grup tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat karena kasus ini.
Saya juga berharap, agar Kompas.com berhati-hati dalam memuat berita yang berasal dari Kompasiana. Karena kemudahan dalam memasukkan data, kemudahan dalam memposting tulisan, kadang tidak disertai dengan kejujuran penulisnya. Kalau memang tulisan si kompasianers tersebut bohong, Kompas Grup, khususnya Kompas.com harus memberi klarifikasi.
            Saya tergelitik memberikan komentar demi membaca tulisan itu. Berikut komentar saya pada tulisan itu:
Salam kenal mbak
Saya sebagai seorang ibu yang sangat awam, mencoba mengajak kita semua untuk berjernih hati.
Khusus untuk kasus Bayi Meninggal Karena Ibu yang BBM-an ini, mari kita lihat hal-hal  ini:
Jika memang kasus ini ada, saya berharap tak menjadi besar karena ada pihak yang hendak membongkar keakuratannya dengan menyelidikinya kepada kepolisian dan lurah setempat.
Karena, jika sampai polisi berpikir harus turun tangan karena memandang ini sebagai suatu kelalaian yang harus dihukum. SIAPA YANG MAU BERTANGGUNG JAWAB AKAN PENDERITAAN BERIKUTNYA DARI IBU DAN AYAH SANG BAYI?
Jika berasumsi kasus ini nyata:
Saya yakin, ayah dan ibunya akan sama2 sangat menyesal atas peristiwa ini. Penyesalan itu akan mereka bawa MATI. Bisa jadi sekarang ini mereka tengah berdamai, berusaha melupakan yang trjadi (meski tak mungkin) dengan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Itu makanya tak ada laporan di polsek setempat.
Nah, kedamaian mereka tentu akan terusik dengan munculnya pihak kepolisian atas nama hukum. Si ibu harus dibui dan si ayah harus menjadi saksi. Sekarang, menghadapi hal spt ini, sekali lagi .. siapa yang akan bertanggung jawab kepada kedua orang ini atas masalah hukum yang timbul?
Saya sebagai ibu yang sangat awam, bersyukur adanya pemberitaan spt ini membuat saya dan ibu2 lain semakin berhati2 dalam memanfaatkan teknologi agar tak lengah memperhatikan buah hati kami. Saya kira kompasianer ybs pun demikian, hanya bermaksud sharing supaya tak ada kejadian serupa lagi.
Betapa banyak ibu yang BBM-an ketika bayinya sedang tidur tetap bayinya masih sehat hingga kini meski ada celah kelengahan besar yang dibuat oleh ibu2 itu. Betapa malangnya ibu ybs karena kelengahannya membuat takdir Allah jatuh padanya sehingga ia yang menjadi pengingat bagi kita2 yang selamat ini, bukannya kita yang kehilangan buah hati kita.
Saya harap, dlm menghadapi hal apapun (bukan hanya kasus bayi meninggal ini) Kompasiana.Com, Kompas.Com, para Kompasianer, dan juga para jurnalis profesional arif dan bijak dalam hal ini. Tidak hanya mempergunakan mata akal dan mata lahirian saja tetapi juga menggunakan mata batinnya.
Salam dari ibu yang sangat prihatin dan simpati kepada siapa pun ibu yang mengalami hal serupa kasus bayi meninggal di atas. Maafkan saya harus berterimakasih karena ironi kisah ibu menjadi pengingat bagi saya dan juga bagi ib-ibu lain di seluruh Indonesia. Semoga hidup ibu ke depannya menjadi lebih baik. Semoga tak ada orang berpakaian polisi yang datang menggelandang ibu ke kantor mereka. Kalau itu sampai terjadi, saya akan menangis untuk ibu.
Salam dari saya yang sangat awam dan bodoh ini.
            Haduh, saya tak pernah beranggapan tulisan tentang ibu yang main BBM itu fiktif. Makanya saya menanggapi secara hati nurani seperti itu dengan mencoba bersimpati kepada ibu yang menjadi pelaku sekaligus korban (kalau ini nyata)
Lalu, ada tanggapan dari seorang kompasianer atas tanggapan saya:
Semoga kasus itu memang tidak nyata, jadi tidak akan ada polisi yang datang ke rumah ibu/orangtua yang malang itu. seperti halnya kasus “jarum pentul” dan “penilaian yg salah” yg diposting orang yang sama.
Namun bila kasus itu nyata: yang pertama bermasalah adalah yang posting kisah itu. sebagai “jurnalis” (sekalipun jurlis warga), mestinya mendengarkan hati nurani sebelum posting. apa dampak yang akan terjadi bila informasinya dipublish? untuk kasus bayi BBM ini, bila memang benar terjadi, karena info ini sudah menyebar kemana2, jurnalis dan aparat setempat mungkin tdak akan tinggal diam. langsung ke tempat kejadian dan meliput/melakukan olah TKP. nyatanya sampai sekarang kita tidak pernah mendengar kelanjutan ceritanya kan? indikasinya kuat bahwa itu hoax. ketika diklarifikasi, yg bersangkutan menulis berita itu malah muter2.
mau menyebarkan kisah untuk mengambil hikmah boleh aja. karang aja kisah yg inspiratif, dan posting di kanal fiksi. jangan di kanal lain.
hoax tetap hoax. dan yg mempublishnya seolah2 itu kisah nyata bertanggung jawab karena melakukan pembohongan publik.
Banyak pelajaran yg bisa diambil dari kasus ini.
“Bukankah untuk alasan keamanan, untuk alasan etika, media berhak menyembunyikan nara sumber/data-datanya? Sah-sah sajakan mereka tak menyebutkannya?” Begitu pikir saya. Saya jadi kasihan kepada kompasianer yang bersangkutan, sekarang tudingan hoax mengarah kepada dirinya. Kompasiana jadi belati bermata dua bagi kompasianernya.
Di bagian akhir tulisan, sang jurnalis menuliskan:
Karena berita yang diturunkan itu, sudah menjadi bacaan publik, bahkan mungkin merugikan pihak tertentu. Apalagi di berita tersebut, juga disebutkan nama merek suatu produk. Saya hanya ingin Kompas Grup yang selama ini sudah besar tetap mendapat kepercayaan dari pembacanya. Bukan lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya……Tabik….
Hei ... pandangan saya tertuju kepada kalimat, “Apalagi di berita tersebut, juga disebutkan nama merek suatu produk.” Apa ini juga menyangkut tulisan saya mengenai Ayam Goreng Bau di Restoran Terkenal itu? Wah .. kalau itu bukan fiksi Bu, saya hanya menuliskan apa yang saya lihat dan rasakan. Bisa diperiksa tulisan saya, walau awalnya saya menyebut nama restorannya, kemudian saya menyamarkannya supaya tidak muncul komentar panjang yang menghujat merek tertentu. Atau .. apakah saya harus menuliskan mereknya? By the way, kerabat yang menyelenggarakan pesta di situ juga sudah membuat surat pembaca di sebuah media cetak yang juga ditayangkan online di McDonald MaRI Makassar Jual Ayam Basi.
 Pfuuh panjang sekali polemik yang muncul ternyata, saya mengamati ada beberapa tulisan yang menyangkut pro dan kontra kepada kompasianer yang menulis tentang bayi yang meninggal itu. Namun ada satu komentar yang menarik perhatian saya di Aku, Titi, dan Barisan Sakit Hati :
Saya hanya tanya satu saja kepada Mba Titi, bagaimana jeda waktu 21 menit yang Mba Titi pakai untuk merealese artikel tragedi bayi mati karena ibunya asyik BBM-an untuk Kompasiana ini. itu saja.
Klarifikasi Mba Titi masih saya tunggu.
Saya masah bodoh amatlah kompasianer itu harus “terverifikasi” atau tidak, untuk apa di pusingin. Yang penting itu kan tulisannya daripada orangnya.
Nah, untuk artikel Mba Titi yg saya tanyakan jeda waktunya, saya sengaja pertanyakan karena kok tidak relevant dengan tugas Mba Titi sebagai petugas Klinik yg harus menolong pasien dalam keadaan darurat, sementara Mba Titi malah asyik kirim artikel dan beri komentar kepada kompasianers sampai sore.
Jadi terkait masalah tanggung jawab profesi seorang petugas klinik dan pasien.
itu saja.
Saya kira kompasianer yang bersangkutan perlu menjawab hal itu (atau tidakkah? Tau ah  ... soalnya saya juga jadi penasaran he he he).
Demikian juga harapan saya pada pihak kompasiana dot com dan kompas dot com. Bersediakah para admin menjadi wasit dalam polemik ini? Agar jelas bagi saya yang awam dan bodoh ini dan mereka yang membutuhkan kejelasan mana yang benar/boleh dan salah/tidak boleh dalam jurnalisme warga biasa (citizen journalism) ini.
Salam jurnalisme warga biasa.

Thursday, November 10, 2011

Bahasa Indonesia, Antara Cinta dan ‘Sayang’

Sumber gambar:
http://inigis.com
Saya sangat cinta bahasa Indonesia.
            Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya, “Apa buktinya?”
          Buktinya adalah, saya tak menguasai satu pun bahasa daerah kedua orangtua saya (Bugis dan Gorontalo). Saya pun tak menguasai bahasa Makassar padahal saya lahir, besar, dan tinggal di Makassar. Saya bahkan merasa punya ikatan hati dengan kota ini, tetapi saya tak menguasai bahasa daerahnya saking cintanya saya dengan bahasa Indonesia.  Saya hanya mengetahui sedikit-sedikit mengenai bahasa-bahasa daerah ini. Maksudnya, ‘sedikit-sedikit’ bengong jika mendengar orang bercakap dalam bahasa ini dengan sangat lancar dan panjang. Juga ‘sedikit-sedikit’ harus bertanya-tanya kepada yang ahli. J

            Program/jargon ‘berbahasa Indonesia yang baik dan benar’ pada era orde baru sungguh berhasil dalam hal ini. Banyak yang nasibnya sama dengan saya, tidak menguasai bahasa Makassar rmeski lahir dan besar di Makassar, bahkan orang-orang yang ayah-ibunya orang Makassar sekali pun. Tidak seperti di kota-kota besar lain, di Makassar kami menggunakan bahasa Indonesia dialek Makassar. Nah ini memperparah ketidakmampuan saya dalam berbahasa Makassar apalagi ayah dan ibu saya bukan berasal dari suku Makassar. So, satu-satunya pilihan adalah memakai dan mencintai bahasa Indonesia, harapan saya dalam cara baik dan benar.
            Sayangnya, bahasa Indonesia yang baik dan benar hanya diajarkan di sekolah-sekolah – SD, SMP, SMA, hingga semester pertama perguruan tinggi. Media massa kita tidak mampu menyajikan bahasa Indonesia dengan cara yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Contohnya, pemakaian kata ‘sangat’ dan ‘sekali’, seringkali digabung dalam satu frase seperti ‘sangat besar sekali’. Entah siapa yang memulai hal ini sedikitnya sudah enam tahun lebih pemakaian frase aneh itu membudaya di negara kita dan media membesar-besarkannya bahkan tetap menjaganya hingga banyak orang yang mengira itulah frase yang benar. 
           Contoh lain, masih banyak penulisan imbuhan/kata depan 'di' yang salah di media massa. Masih banyak yang tidak bisa membedakan pemakaian 'di' sebagai kata depan yang seharusnya ditulis terpisah dan 'di' sebagai awalan yang digunakan pada kata kerja pasif yang seharusnya ditulis bersambung dengan kata dasar. Sangat disayangkan, seharusnya media massa bisa menjadi tempat masyarakat Indonesia belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar setelah sekolah.
Beginilah materi pelajaran bahasa Indonesia kelas 5 SD
            Satu hal yang perlu dikaji lagi adalah: pelajaran bahasa Indonesia untuk SD sekarang ini sebagian besar mengarah kepada hafalan mengenai istilah (menyangkut definisi dan jenis-jenis) dalam sastra Indonesia. Tengoklah deretan kata kunci yang harus dipelajari kelas 5 SD pada semester ganjil yang bukan saja harus dipahami artinya, tetapi juga harus dihafalkan definisinya ini[i]:
Wawancara
Narasumber
Tanggapan
Harapan
Dialog
Lafal
Intonasi
Peran
Cerita
Kalimat majemuk setara
Kritik
Diskusi
Teks
Laporan
Tema
Amanat
Persoalan
Saran
Diksi
Percakapan
Puisi
Pantun
Syair
Mantra
Talibun
Karmina
Distikon
Terzina
Kuatren
Kuint
Sektet
Septima
Stanza
Soneta
Romansa
Elegi
Ode
Himne
Epigram
Satire
Karangan
Kerangka karangan
Nyaring
Percakapan
Surat
Drama
Penokohan
Membaca intensif
Meringkas
            Contoh soal yang diberikan pada buku pelajaran ini, seperti yang dituliskan pada halaman 40 adalah:
Sebutkan unsur-unsur puisi!
Sebutkan ciri-ciri soneta!
Apa yang dimaksud dengan karangan?
Apa yang dimaksud dengan karangan ilmiah?
Sebutkan ciri-ciri pantun!
            Wow, mengagumkan sekali kemampuan anak-anak kita setamat SD dengan pelajaran seperti ini kan? Mengagumkan tapi di sisi lain memprihatinkan karena mereka jadi tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran dan isi hati. Ini karena pelajaran mereka didominasi oleh teori yang mau tidak mau menuntut mereka untuk menghafal. Ya, mereka harus menghafalnya supaya bisa menjawab soal dengan baik dan benar!
            Bandingkan dengan pelajaran bahasa anak SD di beberapa negara, seperti Inggris, Amerika, dan Jepang. Di negara-negara itu, pelajaran bahasa mereka menekankan pada mengasah kemampuan berbahasa mereka, bagaimana supaya mereka mampu mengungkapkan pikiran dan isi hati mereka. Anak-anak Indonesia yang karena suatu hal harus ikut orangtua mereka ke negara-negara ini, bisa mengikuti pelajaran bahasa di sekolah mereka. Yang kasihan kalau anak-anak dari negara lain jika bersekolah di sekolah umum di negara kita, mereka tidak mungkin bisa mengikuti mata pelajaran bahasa Indonesia dengan materi seperti yang dituliskan di atas. Oleh karenanya, sekolah internasional (international school) menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka.
              Hmmm ... lega sudah menuliskan ini. Syukurnya ada ajang Gempita Bulan Bahasa, powered by Indosatjadi tulisan saya bisa juga dibaca oleh pemerhati bahasa tercinta ini J.
Makassar, 10 November 2011

Tulisan ini dibuat dalam rangka Gempita Bulan Bahasa, powered by Indosat, dari informasi yang didapat di: blog Dusun Kata



[i] Buku paket BSE (Buku Sekolah Elektronik) ‘Bahasa Indonesia’ untuk kelas 5 SD terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Tulisan lain yang terkait: