Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Monday, March 19, 2012

Sejarah – Fakta yang Berbeda dan Pelajaran Sekolah

Sejarah – seringkali dipatrikan secara tidak jujur, hanya untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Saya masih ingat dulu pernah menangis tergugu saat nonton film Pengkhianatan G-30S/PKI yang diputar tiap tahun. Belakangan baru terungkap bahwa itu bukan sejarah melainkan pembelokan fakta oleh penguasa yang berkepentingan. Bagi yang belum tahu tentang film ini atau yang mau bernostalgia :), bisa dibaca di sini.


Sumber gambar:

Atau sudah terbantahkan berdasarkan penelitian terbaru tetapi apakah buku-buku sekolah sudah mengoreksinya? Misalnya saja teori Darwin yang sudah dibantah di mana-mana. Salah satunya bisa dibaca di buku karya Harun Yahya di sini.

Tahun 2010 ada pengungkapan temuan sejarah bahwa ternyata Majapahit yang selama ini di dalam pelajaran Sejarah disebutkan merupakan kerajaan Hindu, ternyata merupakan kerajaan Islam.

Bukti-bukti sejarahnya adalah[i]:
  • Penemuan koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah  Muhammad Rasulullah’. Bisa dilihat di Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi kerajaan. Sangat tak mungkin kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin itu. 
  • Di Syeikh Maulana Malik Ibrahim (Wali pertama dalam sistem Wali Songo, penyebar Islam di Jawa) terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam. 
  • Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.
  • Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim (ia cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi dan neneknya seorang muslimah, keturunan penguasa Sriwijaya). Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi itu bukan justifikasi bahwa ia seorang penganut Hindu. Bahasa itu lazim digunakan sebagai penghormatan kepada seseorang. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Gajah Mada  pun ternyata seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih. Pada nisan makam Gajahmada yang di Mojokerto yang dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai patih pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.
Buku yang mengungkapnya
Fakta sejarah berupa koin
Lambang kerajaan Majapahit
Ketiga gambar di atas bersumber dari:

***

Saya menyayangkan, pelajaran Sejarah yang dimaktub dalam buku IPS untuk kelas 5 SD, tak disajikan dengan menarik. Runtutan tanggal, nama orang, dan peristiwa dijejalkan berupa teori yang teramat banyak dalam buku yang harus dihafal anak-anak. Seingat saya, pertama kali belajar Sejarah dulu SMP dilanjutkan ke jenjang SMA dan penyajiannya seperti bercerita, cukup memudahkan dalam mengingatnya.

Sejarah penjajahan Belanda, tokoh-tokoh yang melawannya beserta kisah heroiknya (Sultan Agung, Aultan Ageng Tirtayasa, Sultan Hasanuddin, Pattimura, Imam Bonjol, Diponegoro, Pangeran Antasari, Sisingamangaraja XII, Teuku Umar dan Cut Nyak Dien), pergerakan nasional di Indonesia beserta tokoh-tokoh dan kisah heroiknya, sumpah pemuda, dan penjajahan Jepang disajikan hanya dalam 11 halaman.

Pertanyaannya, seperti juga dalam mata pelajaran lain – bisa apa saja. Bahkan yang tak tercantum dalam deretan teori itu. Untung saja suami saya masih mengingat banyak pelajaran sejarah sehingga bisa membantu Affiq dalam belajar Sejarah. Kalau saya ... waduh ... sama pusingnya dengan Affiq.

Tiga halaman pelajaran 'Sejarah' di mata pelajaran IPS kelas 5 SD

Semoga ke depannya ada perbaikan dalam penyajian pelajaran Sejarah di sekolah-sekolah. Tapi, apa mungkin ya? Kira-kira ada usaha serius dari penentu kebijakan sistem pendidikan di negara ini?

Makassar, 20 Mret 2012

Special thanks to Sari Wulandari - seorang wanita cantik berdarah Indonesia, warga Capetown - Afrika Selatan yang masih senang mempelajari tentang Indonesia. Ia membuat saya mengetahui tentang web yang memuat mengenai kerajaan Majapahit ini.

Dibaca juga ya:




Saturday, February 18, 2012

Kejutan Membahagiakan di Peringatan Maulid Nabi

Para santri - wisudawan TPA berfoto bersama
Tanggal 11 Februari kemarin, di masjid dekat rumah – masjid Bani Haji Adam Taba’ diadakan peringatan maulid nabi Muhammad SAW. Peringatan maulid kali ini, kolaborasi antara pengurus LKU (Lembaga Kesejahteraan Ummat) Amanah – sebuah lembaga swadaya masyarakat, majelis ta’lim ibu-ibu ‘Ashabul Jannah’ dan pengurus masjid Bani Haji Adam Taba’ (kesemuanya beraktivitas di lingkungan kami).

Peringatan maulid ini dirangkaian dengan wisuda santri TPA Babul Jannah. Oya, beberapa waktu yang lalu saya membuat tulisan Rencana Wisuda Tahunan Santri TPA Babul Jannah – saya pikir wisuda santri diadakan tiap tahun. Ternyata saya salah, wisuda santri dilaksanakan setiap dua tahun, wisuda terakhir diadakan dua tahun yang lalu.

Nah, itu makanya Raodah Haryadi – salah seorang guru mengaji Affiq mengatakan kepada Affiq mengapa ia tak ikut ujian kelulusan santri saja toh hafalannya sudah banyak. Mengenai bacaannya yang belum khatam (baru masuk juz 22), tak mengapa, itu bisa dilanjutkan setelah ujian. Masalahnya, tahun ini insya Allah Affiq naik kelas 6, berarti tahun depan masuk SMP.

Jika dua tahun lagi baru ikut ujian sementara ijazah TPA dibutuhkannya tahun depan, bagaimana dong? Saya yang awalnya tidak berniat mengikutkan Affiq karena ngajinya belum khatam, akhirnya mendaftarkan Affiq empat hari sebelum Ujian Kelulusan Santri TPA dilaksanakan setelah sebelumnya berkonsultasi dengan pak Haryadi – pendiri TPA Babul Jannah.

Mau tak mau, Affiq harus bisa belajar untuk ujian tertulis dan hafalan yang berderet itu. Subhanallah – Allah Maha Pengasih, Ia menganugerahkan Affiq yang cerdas untuk saya asuh, namun kemauan belajarnya itu lho, sulit sekali dibangkitkan. Ia sehari-harinya hanya mau bermain saja. Padahal saya tahu, semangat kompetisinya sangat tinggi. Ia suka jika menang/juara, dan ia sangat tak suka jika  kalah. Seringkali ia marah-marah bila tak menang.

Mungkin berlebihan jika saya mengatakan saya sampai ‘berdarah-darah’ mengusahakan ia untuk belajar setiap menjelang UAS, namun begitulah perumpamaan yang tepat akan usaha saya. Pada UAS terakhir saya bahkan harus berkolaborasi penuh energi dengan papanya untuk mendampinginya belajar, begitu pun untuk mengusahakan ia belajar menjelang ujian ini. Padahal ia hanya tinggal menambah hafalan surah-surah saja. Sampai-sampai saya mengeluarkan jurus ‘ancaman’: kalau sampai tak lulus, uang jajannya bakal dipotong senilai uang pendaftaran untuk ujian ini.

Anda mungkin berpikir saya keras? Iya, ada saatnya saya harus keras kepadanya. Menghadapi anak itu bagaikan bermain layangan, ada saatnya ia diulur dengan lembut namun ada saatnya ia harus ditarik dengan keras supaya tak melayang sesukanya apalagi jika cuaca tengah tak bersahabat. Menghadapi anak, sesuai pula dengan tabiat anak. Menghadapi Affiq tak seperti menghadapi Athifah, mereka memiliki karakter yang berbeda. Dan saya sebagai ibunya, tahu persis.

Alhamdulillah, Affiq selesai juga belajarnya. Beberapa surah yang panjang tak bisa dihafalnya. Tak mengapa, yang penting ia sudah berusaha. Ia toh sudah menghafal banyak surah. Maka tibalah saat ujian itu. Saya dan papanya sempat memotret kelangsungan ujian yang dihadiri oleh tiga orang utusan Departemen Agama Makassar yang bertindak sebagai penguji. Ujian mereka seperti sidang sarjana. Setelah itu, hasilnya langsung dibawa oleh bapak-bapak dari DEPAG untuk mereka periksa. Kami hanya bisa berharap, Affiq bisa lulus sesuai dengan usaha yang telah dilakukannya.

***
Penceramah membawakan hikmah maulid Nabi
Seremonial acara maulid
Para santri yang diwisuda
Ibu-ibu majelis ta'lim Ashabul Jannah
Hadirin - warga sekitar di acara maulid
Prosesi wisuda
Penyerahan piala kepada wisudawan terbaik
Pak Haryadi, Raodah, dan pak Yusuf
Baju wisuda yang akan dikenakan Affiq sudah saya seterika. Selepas isya, Affiq pun ke masjid membawa baju wisuda lengkap dengan toganya. Papa dan Athifah yang berkesempatan menemaninya. Saya dan Afyad tinggal di rumah.

Melalui pengeras suara masjid, saya bisa mendengarkan acara yang sedang berlangsung. Mulai dari pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, pemberian kata sambutan dari bapak sekretaris camat (sekcam) Rappocini, dan ceramah maulid. Begitu pun saat acara wisuda dimulai.

Satu per satu dari 36 santri dari berbagai TPA di sekitar Rappocini dipanggil untuk diwisuda. Semua peserta dinyatakan lulus. Affiq beserta 11 temannya yang berasal dari TPA Babul Jannah ada di antara mereka. Setelah itu disebutkan tiga santri terbaik yaitu tiga orang yang memiliki nilai ujian tertinggi.

Piala Affiq
Seorang santriwati dari TPA Nurul Jannah menduduki peringkat ketiga. Saya mendengar dengan perasaan datar. Affiq lulus saja sudah alhamdulillah. Kemudian nama seorang santri dari TPA yang sama dengan Affiq disebut namanya di urutan kedua. Perasaan saya masih datar-datar saja. Kemudian MC menyebutkan peringkat satu, “Dengan nomor urut sembilan.”

Saya tertegun mendengarnya. Seingat saya nomor urut Affiq nomor sembilan! Lalu MC menyebut nama, “Muhammad Affiq Solihin.

Saya terkejut. Affiq peringkat satu? “Subhanallah, alhamdulillah. Terimakasih ya Allah,” spontan terucap syukur dari bibir saya. Tak terasa di kedua pelupuk mata saya menggenang titik-titik air. Sungguh saya tak menduga. Segera sujud syukur saya lakukan di tempat saya berpijak.

Affiq sumringah. Ia disalami oleh pak sekcam. Bahkan diberikan piala. Hati papanya dan saya pun sumringah. Affiq berfoto dengan pialanya dengan wajah yang sangat cerah. Saya tak ingin bangga ya Allah. Engkau yang memberi rahmat. Saya tak boleh bangga. Saya harus bersyukur.

Allah, keberadaan anak-anak adalah nikmat bagi saya. Begitu banyak nikmat yang Engkau berikan melalui mereka. Dan kali ini Engkau tambah lagi. Fabi ayyi ‘alaa i rabbikumaa tukadzdzibaanNikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ibu-ibu majelis ta'lim berfoto bersama
Alhamdulillah ^__^
Tradisi maulid. Ember berisi makanan ini untuk ato'
(kakek) sebagai pengurus LKU Amanah. Ada namanya tuh :)
Isi ember: kaddo minynya', ayam goreng, ikan kambu,
dan kelapa sangrai
Telur warna-warni, sayangnya ada yang pakai
pewarna tekstil :(

Makassar, 19 Februari 2012

Bisa dibaca juga tulisan yang lain:

Thursday, February 9, 2012

Ujian Kelulusan Santri TPA

Suasana ujian
 Bertepatan dengan maulid nabi Muhammad SAW hari Ahad kemarin, TPA Babul Jannah menyelenggarakan ujian kelulusan bagi santri TPA. Peserta yang mengikuti ujian itu tak hanya dari TPA Babul Jannah, melainkan juga dari TPA-TPA lain di sekitar jalan Rappocini Raya lorong 3. Di lingkungan saya masjid bertebaran, beberapa dari mereka memiliki TPA tetapi tak semuanya menyelenggarakan ujian kelulusan bagi santrinya.

Dahulu tak ada ujian dan wisuda mengaji seperti sekarang ini. Asal sudah khatam 30 juz saja, sudah dinyatakan tamat mengaji. Sekarang hal ini menjadi marak dilakukan karena SMP negeri mempersyaratkan calon siswanya memiliki ijazah TPA, sebagai perwujudan program pemerintah lokal: pemberantasan buta aksara al-Qur’an. Yang mengesahkan ijazahnya pun tak tanggung-tanggung: Departemen Agama kota Makassar!

Setiap anak harus menghadapi 3 penguji
dari Departemen Agama Kota Makassar ini.
Seperti sidang sarjana lho ...


Jika biasanya ujian santri diselenggarakan oleh TPA Babul Jannah saja. Kali ini, pihak dari Departemen Agama juga terlibat sebagai penguji. Tiga orang penguji diutus ke masjid Bani Haji Adam Taba’, jalan Rappocini Raya lorong 3, tempat ujian dilaksanakan.

Materi ujian untuk 36 peserta ini sama jenisnya seperti yang lalu-lalu, yaitu: hafalan surah pendek, hafalan do’a sehari-hari, hafalan ayat-ayat pilihan, hafalan bacaan shalat, dan tadarus. Lalu ditutup dengan ujian tulisan, mengenai wawasan Islam para santri. Lengkap. Inilah komplitnya kalau di TPA ini, anak-anak yang belajar mengaji secara privat belum tentu dilatih hafalan.

Untuk pertama kalinya, setelah lima kali menyelenggarakan, pemeriksaan hasil ujian kali ini langsung diambil alih oleh Departemen Agama. Biasanya ustadz/ustadzah TPA sendiri yang memeriksanya setelah itu baru diserahkan ke Departemen Agama untuk dilegalisir, kali ini tidak lagi.

Ujian yang dimulai pagi hari berakhir menjelang dhuhur. Mudah-mudahan saja para santri memperoleh nilai bagus. Yang jelas penilaian yang mereka dapatkan nantinya akan sangat obyektif karena yang memeriksanya adalah utusan dari Departemen Agama kota Makassar.


Ujian hafalan surah pendek
Pak Haryadi, pendiri TPA Babul Jannah (kiri) tengah berbincang
dengan seorang penguji dari Departemen Agama
Ibu Narna - ustadzah TPA Babul Jannah  (kanan)
bersama ibu dari seorang santriwati
Para santri yang sudah mendapat giliran
Jualan bakso si mas untung besar ^__^

Makassar, 9 Februari 2012

Bisa dibaca juga yang berikut ini:

Tuesday, February 7, 2012

Pak Profesor Itu Guru Siswa SMP

Sumber gambar:
http://power-english.net
Ketika sebuah profesi bersentuhan langsung dengan manusia maka ia akan banyak disorot. Ketika profesi itu membantu anak-anak menjadi lebih cerdas maka mulialah profesi itu. Ketika itu pula, pelaku profesi itu dituntut untuk berlaku bijak. Tak mengapa ia memiliki penampilan yang sangat sederhana asalkan karakter positif yang dimilikinya luar biasa.

Dengan demikian ia akan kekal dalam benak dan hati orang yang mengenalnya meski dirinya sudah berada di alam lain. Memahat prasasti yang memuat namanya dalam bilik memori tersendiri. Setiap orang memiliki kenangan tersendiri akan guru-gurunya, seperti halnya saya. Guru yang satu ini meninggalkan kenangan yang mendalam bagi diri saya.


***

Percaya tidak jika saya mengatakan pernah diajar oleh seorang profesor saat masih duduk di bangku kelas satu hingga kelas dua SMP? Tidak? Ah, Anda harus mempercayainya karena saya mengalaminya sendiri. Profesor yang mengajar saya itu adalah guru kursus bahasa Inggris pada lembaga kursus bernama Ever On English Course  yang didirikannya. Lembaga kursus ini memiliki motto – sebuah idiom dalam bahasa Inggris: Ever On Never Retreat yang berarti ‘maju terus pantang mundur’. Motto yang sangat sesuai dengan karakter pendirinya.

Namanya profesor Dikwan Eisenring. Lelaki berambut putih ini konon berasal dari Belanda. Ia memperistrikan perempuan Indonesia yang memberinya tiga orang anak laki-laki. Mereka menempati sebuah rumah di kompleks IKIP yang terletak di depan gedung IKIP, jalan Bonto Langkasa, Makassar.

Profesi sebenarnya adalah dosen bahasa Inggris di IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) Makassar dan ia membuka kursus yang mengambil tempat di garasi rumahnya. Pengajar utama kursus adalah dirinya dan sang istri. Terkadang anak-anaknya juga mengajar para peserta kursus di saat pasangan suami istri itu berhalangan. Kursusnya berlangsung dua kali dalam sepekan. Peserta boleh memilih pada hari-hari apa ia bisa: Senin-Kamis, Selasa-Jum’at, atau Rabu-Sabtu.

Saat lembaga-lembaga kursus lain sudah menetapkan biaya sebesar puluhan ribu rupiah setiap bulannya, profesor Eisenring hanya menetapkan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah per bulan. Dedikasinya dalam mengajar para peserta kursus yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP itu tak perlu diragukan lagi, betul-betul dedikasi seorang profesor.

Saya masih ingat beberapa kali saya datang ke tempat kursus, tak ada seorang teman pun yang datang karena berhalangan. Ini karena peserta dalam kelas yang saya ikuti memang hanya sedikit, tidak sampai sepuluh orang. Jika kebetulan mereka semua berhalangan, tinggallah saya seorang diri yang belajar. Jika demikian, saya belajar di ruang tamu rumahnya. Namun demikian pak Eisenring tetap mengajar dalam waktu yang full dan sangat serius.

Pengajarannya yang menekankan kepada penguasaan grammar, penguasaan kosa kata, dan pronounciation (cara pelafalan) membantu saya dengan cepat mempelajari bahasa Inggris. Sangat serius dalam mengajar, sosok yang sebenarnya bisa juga bercanda ini tak hanya mengajar dengan cara konvensional, ia juga menerapkan permainan-permainan yang membuat kami merasa bahwa bahasa Inggris adalah pelajaran yang menyenangkan.

Dua buah buku paket dengan cover berwarna biru yang dibuatnya sebagai bahan ajar bukan hanya menuliskan materi ajar, buku-buku itu juga menuliskan bagaimana seharusnya sebuah kata diucapkan dengan benar. Misalnya kata-kata yang mengandung gabungan konsonan th, st, ck, ch, sh, dan sebagainya. Buku-buku itu tidak tebal tetapi mampu memuat dasar-dasar grammar yang sangat menunjang pelajaran bahasa Inggris mulai dari SMP hingga SMA.

Sumber: http://englishglobal.info

Jika sedang mengajari kami menyebutkan sebuah kata, ia tak membiarkan kami menyebutkannya dengan salah. Setiap anak dites cara pengucapannya. Kami harus mampu mengucapkannya dengan tepat. Jika salah sebut, ia tak beranjak dari hadapan kami hingga kami bisa mengucapkannya dengan benar. Ini membuat kami bersungguh-sungguh dalam belajar. Misalnya kata old harus dilafalkan dengan benar yaitu “Ould”. Ada bunyi ‘u’ setelah ‘o’, dan ada bunyi ‘d’ yang sangat jelas di ujung kata. Jangan sampai mengucapkannya dengan “Old” apalagi “Olt” karena ia akan terus berdiri di situ sambil menatap dengan tajam.

Sebelum memulai pelajaran, kami duduk melingkar. Seorang anak memulai memberi pertanyaan yang harus dijawab kepada anak yang duduk di sebelahnya.  Selanjutnya anak itu memberikan pertanyaan kepada yang duduk di sebelahnya. Begitu terus hingga 20 – 30 menit. Hal ini memicu saya untuk mencari bentuk-bentuk pertanyaan baru. Malu dong kalau pertanyaan yang diajukan itu-itu saja.

Suatu ketika, saya mempersiapkan sebuah pertanyaan dengan mantap. Saya yakin sekali pertanyaan itu tak pernah ditanyakan oleh satu orang pun di kelas kursus saya. Tiba giliran saya, saya mengeluarkan pertanyaan andalan itu: “Do you have parents?” Teman di sebelah saya menjawab sambil tersenyum, “Yes I do.” Teman-teman lain juga tersenyum bahkan ada yang tertawa. Salah seorang dari mereka berkomentar, “Jelas dong!” Aduh ... malunya. Untungnya pak Eisenring tak berkata apa-apa.

Bukan hanya bahasa Inggris, jika dianggapnya perlu dan kebetulan bahan yang sedang dipelajari berkaitan, ia juga mengajari kami bidang-bidang studi lain seperti Bahasa Indonesia dan IPS. Pun kalau merasa perlu menyampaikan ajaran etika dan tata krama, tanpa tedeng aling-aling ia mengajari kami bagaimana seharusnya bersikap. Misalnya saja pada suatu ketika, ia membawakan kami sebuah globe (bola dunia) untuk menunjukkan letak sebuah wilayah kepada kami.

Setiap tahun, pak Eisenring mengikutsertakan murid-muridnya yang sudah kompeten untuk mengikuti Ujian Nasional Bahasa Inggris untuk tingkat Dasar yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud, sekarang bernama Depdiknas – Departemen Pendidikan Nasional).

Untuk menghadapi ujian, ia mengajari kami secara khusus, termasuk bagaimana mendengarkan sebuah pembicaraan (listening) dan menjawab pertanyaan berdasarkan apa yang dibicarakan dan bagaimana memahami sebuah bacaan (reading comprehension). Ia melatih kami dengan materi yang sebenarnya untuk mahasiswa.

Saat hari ujian tiba, pagi-pagi kami sudah berada di kantor Depdikbud. Pak Eisenring juga sudah siap di sana. Ini pengalaman pertama saya mengikuti ujian nasional. Ujian tingkat dasar ini terbagi dua, Dasar Satu dan Dasar Dua. Yang saya ikuti adalah tingkat Dasar Satu. Keberadaan guru di tempat ujian sungguh menenangkan, secara psikologis sangat membantu. Karena terbiasa mengerjakan soal untuk mahasiswa, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Sumber:
http://cartoonstock.com
Ternyata untuk ujian listening, pak Eisenring menjadi native speaker-nya. Saya pun tak menemui kesulitan berarti dalam mendengarkan apa yang diucapkannya karena sudah terbiasa mendengarnya bertutur dalam bahasa Inggris yang tentu saja sangat fasih. Usai ujian, beberapa peserta menggerutu karena sulit menangkap apa yang dikatakan oleh pak Eisenring yang menurut mereka tidak jelas, seperti hanya bergumam dan bersuara sangat kecil. Saya tersenyum dalam hati dan membatin, “Mudah-mudahan saya lulus dalam ujian ini.”

Materi ajar yang termuat dalam buku-buku paket kursus habis saat saya duduk di kelas 2 SMP. Sayang sekali, tak ada materi lanjutan di Ever On sehingga masa kursus saya selesai saat itu.

Walaupun pak Eisenring menjadi pembaca soal dalam ujian itu, ia sama sekali tak memberikan kami bocoran soal. Ia betul-betul jujur dalam mempersiapkan kami. Sedemikian dalam kesannya dalam mengajar membuat saya sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris. Dasar pengetahuan grammar dan pronounciation saya kuat sehingga sejak kelas 1 SMP hingga tahun pertama kuliah, nilai bahasa Inggris saya selalu bagus.

Dasar pengetahuan itu bahkan masih bisa saya gunakan saat ini dalam mendampingi anak saya yang duduk di kelas lima SD belajar bahasa Inggris. Kalau dulu bahasa Inggris diajar mulai di bangku SMP, sekarang kurikulum kelas dua, bahkan ada yang kelas satu SD sudah mencantumkan bahasa Inggris sebagai bidang studi yang harus dipelajari. Kini, sudah bertahun lamanya ia berpulang namun kesannya sangat mendalam di benak dan hati saya. Bekal bahasa Inggris yang ia ajarkan dahulu, bisa saya pakai untuk mengajari anak saya dasar-dasar bahasa Inggris. Rest in peace, profesor.

***

Masa kursus itu sudah begitu lampau bagi saya namun semua kenangan itu masih saja membekas seakan baru saja terjadi. Para guru, kira-kira sadarkah mereka segala sikap dan perlakuan mereka bisa membekas sedemikian dalam? Seandainya mereka sadar, mereka pasti akan mengemas diri mereka di dalam akhlakul karimah. Mereka tentu berlomba-lomba menjadi teladan dan hati-hati dalam bertutur juga bersikap. So bagi para guru segera berbenah diri mumpung masih ada umur. Jangan sampai Anda meninggalkan kesan buruk bagi siswa-siswa Anda.

Makassar, 29 Desember 2011

Dibaca juga yah:

Dua Kopdar dalam Sehari (1)
Do'a Tak Terduga yang Tulus




Wednesday, January 25, 2012

Rencana Wisuda Tahunan Santri TPA Babul Jannah

Santriwati-santriwati ini sedang menghafal bersama
Hari Ahad barusan, saya diundang rapat orangtua santri TPA Babul Jannah. Agendanya, membicarakan acara penamatan (wisuda) santri yang telah tamat mengaji yang dirangkaikan dengan peringatan maulid nabi Muhammad SAW.

Di Makassar, untuk masuk ke SMP negeri – siswa yang bersangkutan diharapkan sudah memiliki surat tanda tamat belajar al-Qur’an yang dikeluarkan departemen Agama RI. Malah ada sekolah yang mengharuskannya. Ide ini patut diacungkan jempol karena banyak anak usia 11 – 13 tahun belum bisa membaca al-Qur’an  dengan lancar. Hal ini tentu akan memaksa mereka untuk serius belajar membaca al-qur’an.


Pak Haryadi tengah mendengarkan
hafalan para santri
Beberapa TPA di Makassar menyelenggarakan penamatan warganya dengan mengadakan wisuda. Seperti wisuda sarjana di perguruan tinggi, mereka dibuatkan acara seremonial dan dipakaikan jubah dan toga wisuda. Pasti mereka bangga jika bisa memakai pakaian wisuda seperti itu.

Tapi sebelumnya mereka harus melalui ujian dahulu. Syarat mutlak yang mereka harus penuhi – tentu saja khatam 30 juz al-Qur’an dan pintar mengaji, tidak terbata-bata lagi. Selain itu ada ujian hafalan. Mereka harus menghafal sejumlah surah dari juz ‘amma dan sejumlah ayat yang sudah ditentukan seperti ayat Kursi dan lain-lain.

Penyelenggaraan seperti ini tentu saja butuh biaya. Nah, rapat kali ini memutuskan setiap santri yang hendak tamat harus membayar Rp. 175.000. Cukup murah untuk ukuran Makassar karena ada yang menyelenggarakan wisuda semacam ini mengharuskan tiap santri membayar sejumlah Rp. 350.000.

Tahun ini Babul Jannah akan menamatkan 12 orang santrinya. Tetapi acara wisuda itu sendiri akan diikuti santri-santri dari TPA lain, dari TPA-TPA di sekitar jalan Rappocini. TPA-TPA yang tak mampu mengadakan wisuda menumpangkan santri-santri mereka di Babul Jannah sehingga mereka bisa ujian, wisuda, dan mendapatkan sertifikat tanda tamat baca al-Qur’an dari departemen Agama melalui Babul Jannah.
Para orangtua santri sedang menyimak
yang dikatakan pak Haryadi

Affiq belum bisa ikut karena ia masih juz 21. Affiq baru ikut mengaji di TPA ini pada tahun 2010. Ia beserta 100-an orang santri lainnya mengaji setiap hari kecuali Selasa dan Jum’at. Jika di sekolah ia masuk pagi, ia mengaji siang. Jika ia masuk siang maka ia mengaji di pagi hari. Khusus hari Ahad, semua santri harus mengaji siang.


Ada yang mengatakan, "Kenapa bisa mengajinya sekian tahun, tidak bisa tamat cepat?" Itu karena bacaan mereka dikontrol oleh gurunya. Satu anak hanya bisa menyelesaikan satu halaman setiap harinya, lalu ditulis di buku Prestasi mereka. Dan guru yang menghadapi mereka menandatanganinya. Itu makanya tak seperti di beberapa tempat yang santrinya bisa tamat mengaji dalam waktu beberapa bulan saja.

Siang itu, saat saya datang ke TPA pada pukul tiga siang, santri masih sementara mengaji. Sudah ada dua orang ibu yang anaknya juga mengaji di situ. Santri yang hadir ada 70 orang. Ruang seluas 20-an meter persegi itu terasa sesak. Udara segar yang mengalir melalui dua pintu yang terbuka dan jendela direbuti lebih dari 70 orang. Semilir angin yang ditimbulkan oleh dua buah kipas angin yang terpasang tidak bisa membantu menguapkan kepengapan yang terasa sangat nyata.

Jl. Rappocini Raya lr. 3 no. 3
Tetapi semua santri tetap belajar mengaji dengan tekun. Ada pula yang walau mengantuk, tetap berusaha tekun. Ah tidak, tak semua dari mereka tekun. Ada juga yang malas-malasan. Ada yang bermain. Ada yang nakal. Saya geleng-geleng kepala menyaksikan anak-anak yang nakal. Semoga Affiq tak memiliki kelakuan seperti mereka di luar rumah.

Empat orang guru dengan tekun menghadapi ketujuhpuluh anak ini. Pak Haryadi, Raodah Haryadi - putrinya, ibu Narna dan seorang guru laki-laki. Tak putus rasa salut saya buat mereka yang bersedia dibayar minim oleh anak-anak ini. Dari 100-an anak, hanya separuhnya yang membayar. Itu pun tak tetap tiap bulan, ada juga yang jumlahnya tak tetap. Paling tinggi mereka membayar Rp. 20.000. Tetapi lebih banyak yang membayar di bawah itu.

Hanya Allah yang bisa membalas jasa pengajar TPA seperti mereka. Hanya Allah saja yang tahu berapa besar balasan yang pantas untuk mereka. Yang jelas, insya Allah mereka nanti memiliki bekal amal jariyah dari para santri yang akan tetap melantunkan ayat-ayat suci dari mulut mereka entah sampai kapan. Ya, mudah-mudahan saja ada di antara para santri ini yang menjadi pembaca tetap al-Qur’an. Mudah-mudahan ada yang tidak meninggalkan tadarus al-Qur’an meski ia sudah khatam belajar mengajinya. Karena selayaknya kitab suci ini dibaca seumur hidup hingga malaikat maut menjemput.

Makassar, 26 Januari 2012

Silakan dibaca juga tulisan-tulisan yang lainnya: